Dimanakah Kau Berada Kini?

Aku menyukainya, sedari dulu. Kami baru "bertemu" akhir-akhir ini saja. Tidak secara langsung memang, tapi tak mengapa. Itu sudah bisa menyenangkan hatiku.

Dia menyukaiku, sedari dulu. Tapi tak pernah berlanjut ke hubungan yang lebih serius. Karena aku kurang begitu dekat dengannya. Aku hanya dekat dengan teman-temannya. Sayangnya, setiap temannya memberitahu ada titipan salam dari dia, aku hanya merespon itu sebagai becandaan saja, karena teman-temannya itu suka iseng.

Tapi, di saat ada harapan bisa bertemu, dia menghilang. Aku berusaha mencari tapi tetap gak ketemu. Berkali-kali kucoba menghubunginya tapi selalu gagal.

Dia kemana? Kenapa menghilang tiba-tiba? Tidak tahukah kau aku mencarimu terus?

Dia hilang tepat di saat aku ingin menghampirinya...
Hiks...

Lanjut baca “Dimanakah Kau Berada Kini?”

Kuis Berhadiah Album Terbaru Ungu

Siapa yang gak mau barang gratisan? Semua pasti mau lah. Apalagi kalo cara mendapatkannya gampang. Barang gratisan seperti ini bisa didapat dengan mudah dengan mengikuti kuis.

Nah, pas tadi blogwalking gak sengaja liat kuis berhadiah "CD Original Album Terbaru Ungu" yang diadakan oleh bungRYAN. Caranya cukup gampang, cukup dengan menjawab Judul Lagu dan Judul Album Terbaru Ungu. Kalo kalian tahu jawabannya, segera kirim beserta alamat lengkap ke bungryan@hotmail.com dengan subjek "UNGU". Jawaban diterima paling lambat tanggal 21 Maret 2009.

Tertarik? Silakan baca informasi selengkapnya di blog-nya bungRYAN.

Lanjut baca “Kuis Berhadiah Album Terbaru Ungu”

Halo Selamat Pagi

Jam saat itu menunjukkan pukul 6 pagi. Oh, aku masih terjaga. Aku gak tau mau ngerjain apa. Aku sedang duduk di depan komputer di kamarku. Memandangi Yahoo! Messenger yang semua daftar kontaknya berstatus I'm on SMS atau I'm Mobile. Kenapa mereka semua gak ada yang insomnia seperti aku ini? Kasian mereka.

Jam saat itu menunjukkan pukul 6.30 pagi. Oh, aku masih terjaga. Aku masih gak tau mau ngerjain apa. Tiduran sambil nonton berita olahraga di TV. Walaupun beritanya udah ku tau beberapa jam sebelumnya dari internet tapi tak apa lah. Ini ada gambarnya. Nonton infotainment juga biar gak ketinggalan gosip terbaru.

Jam saat itu menunjukkan pukul 7 pagi. Oh, aku masih terjaga. Aku harus tau mau ngerjain apa. Alarm di HP ku berbunyi. Hmm, sudah saatnya tidur. Memang iya begitu, alarm bukan untuk membangunkan tapi untuk mengingatkanku supaya segera tidur. Oh, duniaku sudah terbalik rupanya. Biarlah.

Tapi aku belum ingin tidur. Aku harus memanfaatkan waktu yang gak akan kembali lagi untuk hal-hal yang berguna. HP di tangan, pulsa sedang banyak, saatnya beraksi. HP kubuat biar memanggil nomor HP temanku Nain. Pastilah dia masih tidur. HP nya gak diangkat. Baguuussss. Anda didaulat menjadi korban pagi ini.

HP kubuat lagi memanggil teman yang lain. Temanku si Putri. Pasti dia sudah bangun. Benar saja, telpon diangkat.
"Halo"
"Halo Put."
"Tumben pagi-pagi dah nelpon?"
"Hehe.. Eh Put, liat Nain gak?"
"Nggak. Napa?"
"Kutelpon ke HP nya tapi gak diangkat. Kemana ya anak itu?"
"Loh? Ada apa rupanya?"
"Eh udah dulu Put, aku mau nelpon yang lain."
Klik. Pembicaraan terputus.

HP kubuat lagi memanggil teman yang lain. Temanku si Budi. Si Budi yang sedang ada di Siantar.
"Halo"
"Halo Bud."
"Napa Rud?"
"Liat Nain gak?"
"Nggak. Napa?"
"HP nya gak aktif terus. Kemana ya anak itu?"
"Gak tau. Kenapa rupanya?"
"Eh udah dulu Bud."
Klik. Pembicaraan terputus.

HP kubuat lagi memanggil teman yang lain. Temanku si Gunawan. Si Gunawan yang sedang ada di Jakarta.
"Halo"
"Halo Gun. Ada liat Nain gak?"
"Gila kau. Aku aja di Jakarta, cemana bisa kuliat si Nain itu."
"OK lah kalo gitu. Udah dulu ya Gun."
"Ada apa?"
Klik. Pembicaraan terputus.

HP kubuat lagi memanggil teman yang lain. Temanku si Anto. Dia pasti gak kenal Nain.
"Halo"
"Halo To. Ada liat Nain gak?"
"Nain siapa?"
"Gak kenal kau ya? Ya udah lah."
Klik. Pembicaraan terputus.

Nelpon siapa lagi ya? Oh iya, nelpon ke rumah uwaknya saja.
"Halo"
"Halo Selamat Pagi. Bisa bicara dengan Zulkarnain?"
"Ini siapa?"
"Dari teman kuliahnya dulu. Nain ada?"
"Oh belum datang. Ada pesan?"
"Makasih ya."
Klik. Pembicaraan terputus.

Oh Nain, aku gak tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi yang pasti setelah itu HP kumatikan biar gak ada yang bisa menghubungiku. Karena aku langsung ingin tidur. Tidur dengan senyuman. Senyum yang penuh dengan kepuasan.

Aku terbangun jam 2 siang. Online sebentar untuk menyapa teman-temanku di YM. Teman-temanku yang tadi pagi mungkin tertidur di Mobile atau sedang kurang kerjaan SMS-an sampai pagi. Sekedar say hello saja ke mereka lalu diam. Biar mereka pikir aku ini sedang sibuk.

Bagaimana nasib si Nain ya? Aku harus ketemu dia. Segera aku ke rumah uwaknya, pasti dia sedang disana. Betul saja, dia sedang duduk di depan sambil senyum-senyum melihat kedatanganku.
"Woi, kau tadi pagi ngapain?"
"Tidur."
"Alaaaahh, kau nelpon kawan-kawan kan?"
"Iya. Kenapa?"
"Gila kau Rud, dipikir mereka aku kenapa-kenapa. Semua nelpon aku." Kenapa-kenapa itu maksudnya sedang dalam masalah dan sejenisnya gitu lah.
"Kan bagus, berarti mereka masih menyimpan nomor HP mu."
"Hehehe."
"Eh aku cabut dulu ya, mau berkelana."

Nain, harusnya kau bahagia saat itu. Harusnya kau sadar kalau kawan-kawanmu masih peduli samamu. Kecuali si Anto. Bahagialah kau masih punya teman-teman yang kuatir saat kau dalam masalah. Walaupun itu cuma masalah fiktif. Oh ya, sampaikan maafku pada uwakmu.

Lanjut baca “Halo Selamat Pagi”

Si Bungsu Naik Taksi

Namanya Andi. Masih SD. Sedang berkeliaran dari warung ke warung. Sedang berkeliaran dari meja ke meja. Sedang bernyanyi, menurut dia begitu. Tanpa nada tapi biarkan saja lah. Dia pasti sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa bernyanyi.

Sampai akhirnya dia bernyanyi di depanku. Awalnya bernyanyi dengan semangat. Bernyanyi dengan bantuan botol aqua sebagai alat musik. Tapi karena aku diam aja sambil terus memandangnya dengan paras muka kebingungan, dia pun jadi ikut-ikutan bingung.

"Bang, minta seribu aja, bang."
Aku diam.
"Bang..."
Aku masih diam.
Dia pun beranjak pergi.
"Mau kemana?" itu aku yang bertanya.
"Minta seribu aja, bang." Ah, anak jaman sekarang, lain ditanya lain dijawab.
"Siapa namamu?"
"Andi, bang."
"Kok gak sekolah?"
"Tadi udah sekolah, bang."
"Sekolah lagi lah, biar pintar."
"Udah tadi, bang. Sekarang udah pulang sekolah."
"Kok disini? Pulang dari sekolah ya ke rumah lah."
"Minta seribu lah, bang."
Kenapa harus seribu? Kenapa harus ada harga minimal untuk memberi uang untuknya? Kenapa gak dua ribu aja? Kan aku lagi kaya. Hehehe.
"Iya nanti ku kasih seribu. Duduk dulu disini, kita ngobrol-ngobrol."
Bersamaan dengan dia duduk, minuman yang tadi ku pesan datang. Kopi hitam kesukaanku. Kopi hitam? Kopi ya memang hitam.
"Mau minum? Pesan aja."
"Gak, bang. Tadi udah minum." Wah, dia sedang kaya juga rupanya. Sudah mesan minum juga tadi tapi entah dimana.
"Kok ngamen?"
"Untuk bayar uang sekolah, bang?"
"Sekolahmu gak punya uang juga? Suruh ngamen aja lah sekolahmu itu."
Diam dia.
"Kau anak ke berapa?"
"Anak ke empat, bang."
"Berapa bersaudara."
"Empat, bang."
"Berarti anak bungsu lah ya."
"Nggak, bang. Aku anak terakhir." Hah?? Sekolah dimana anak ini? Kok beda artinya anak bungsu dengan anak terakhir?
"Iya itu anak bungsu lah namanya."
"Masih lama, bang? Aku mau pergi lagi. Nanti ditinggalkan kawan-kawanku."
"Masih lama apanya? Masih lama ngasih uangnya?"
"Nggak, bang." Takut dia.
"Mau kemana kalian?"
"Mau ke Medan Plaza, bang."
"Waaah, banyak uang rupanya. Mau belanja apa disana?"
"Nggak, bang. Mau ngamen disana."
"Ya udah biarin aja kawan-kawanmu pergi duluan. Nanti kan bisa nyusul."
"Aku gak tau naik angkotnya, bang."
"Kan gampang, tinggal naik aja. Kaki kanan dulu, jangan lupa pegang pintunya biar gak jatuh."
"Gak tau naik angkot nomer berapa, bang."
"Oohh."

Gak berapa lama teman-temannya datang. Mengajak dia pergi ke Medan Plaza. Kusuruh teman-temannya pergi duluan. Kubilang nanti Andi pergi sendiri, naik taksi. Teman-temannya percaya. Kasihan.

Tapi memang iya begitu. Andi kupaksa pesan minum lagi. Karena kami ngobrol panjang lebar. Ngobrol tentang sekolahnya. Tentang cita-citanya jadi mahasiswa. Tentang kebosanannya tiap hari mengamen di Pajus. Tentang tips mengamen yang baik. Ku kasitau dia kalo ngamen cari orang yang sedang pacaran. Pasti si cowok mau ngasih duit. Kan biar gak terganggu pas sedang merayu ceweknya.

Akhirnya dia benar-benar mau pergi. Biar dia senang, ku kasih uang yang cukup untuk dia naik taksi ke Medan Plaza. Dia pun tertawa. Sambil joget-joget juga. Entah kenapa. Mungkin sedang senang. Tak apa lah untuk kali ini aku senang liat orang lain senang. Hehehe.

Lanjut baca “Si Bungsu Naik Taksi”

Tertawa Itu (Katanya) Sehat

Siapa yang gak suka humor? Siapa yang gak suka tertawa? Pasti semua suka. Karena tertawa bisa bikin senang. Bisa mengurangi stress, mengurangi suntuk, mengurangi beban pikiran. Katanya tertawa itu obat awet muda. Walaupun tiap hari tertawa umur tetap aja berkurang, tapi biarlah pendapat itu tetap ada. Sama seperti kalian, aku juga suka humor. Aku menikmati humor.

Humor dengan cara ngerjain orang paling kusukai. Seperti di acara Just For Laugh (sekarang udah gak ada lagi di TV Indonesia) atau acara Jail di TransTV. Lucu aja melihat reaksi spontan dari orang-orang yang dikerjain. Sekarang ada juga acara baru yang mirip itu, Satu Lawan Banyak di RCTI. Lumayan menghibur lah, walau sebenarnya aku lebih terhibur dengan atraksi sulapnya.

Aku juga suka humor dalam bentuk dialog. Tapi untuk yang satu ini sekarang udah jarang ada. Dulu sih ada di acara Tawa Sutra. Tapi sejak berubah nama jadi Tawa Sutra XL entah kenapa aku jadi kurang suka aja. Mungkin karena artis-artis pendukung yang baru kurang begitu masuk dengan yang lama. Humornya jadi garing. Plus banyak unsur "penyiksaan".

"Penyiksaan" gimana? Coba perhatikan, komedian-komedian baru atau orang-orang yang merasa dirinya komedian lebih banyak menggunakan fisik untuk dijadikan bahan tertawaan. Ada yang suka menjambak rambut, ada yang suka "beraksi" di jidat lawan mainnya, dan ada juga yang suka menyentuh bagian-bagian tubuh yang sebenarnya tidak layak disentuh orang lain, apalagi acaranya disiarkan dan tidak tertutup kemungkinan ditonton anak di bawah umur.

Mengapa bisa begitu? Mungkin komedian tersebut menggunakan cara instan untuk bisa terkenal. Mungkin dia kekurangan ide lawakan. Mungkin dia malas mikir bahan lawakan baru yang lebih baik. Mungkin dia memang punya sifat dasar suka menyiksa orang lain. Mungkin dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Atau mungkin penontonnya yang bodoh. Kok bisa ya ketawa dengan bahan lawakan seperti itu?

Model lawakan lain yang tidak kusukai itu lawakan dengan mengeksploitasi kekurangan dirinya sendiri. Kekurangan fisik maupun mental. Dia menikmati kekurangannya itu dihina, diejek, atau dipermainkan oleh orang lain untuk bisa jadi bahan lawakan. Walau mungkin dia sendiri tidak suka tapi aku yakin dia berbuat semua itu karena alasan profesionalisme. Mirip seperti alasan artis yang berani buka-bukaan di depan kamera. Haruskah profesionalisme di atas segalanya kalau itu tidak baik untuk diri sendiri?

Tertawa itu katanya menyehatkan. Maka pilihlah humor yang benar-benar sehat. Jangan pilih humor yang bisa membuat kita meniru tindakan kekerasan, atau yang bisa menaikkan nafsu birahi yang bisa menimbulkan tindakan asusila. Tidak semua orang punya kemampuan yang sama untuk menahan diri. Pilihlah yang terbaik untuk anda. Saran ini hanya ditujukan untuk orang yang ingin sehat saja.

Lanjut baca “Tertawa Itu (Katanya) Sehat”